• Foto.1.Sosialisasi undang-undang no.21 tahun 2013 tentang Keantariksaan.jpg
  • Foto.2.Sosialisasi undang-undang no.21 tahun 2013 tentang Keantariksaan.jpg
  • Foto.3.Sosialisasi undang-undang no.21 tahun 2013 tentang Keantariksaan.jpg
  • Foto.4.Sosialisasi undang-undang no.21 tahun 2013 tentang Keantariksaan.jpg
  • Foto.5.Workshop Implementasi Kebijakan Satu peta untuk Kalbar hijau di Hotel Orchardz Perdana.jpg
  • Foto.6.Workshop Implementasi Kebijakan Satu peta untuk Kalbar hijau di Hotel Orchardz Perdana.jpg
  • Foto.7.Workshop Implementasi Kebijakan Satu peta untuk Kalbar hijau di Hotel Orchardz Perdana.jpg
  • Foto.8.Workshop Implementasi Kebijakan Satu peta untuk Kalbar hijau di Ruang Rapat Bappeda.jpg
  • Foto.9.Workshop Implementasi Kebijakan Satu peta untuk Kalbar hijau di Ruang Rapat Bappeda.jpg
04:21, 26th May 2015
May 2015
MTWTFSS
123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
Hari iniHari ini25
KemarinKemarin209
Minggu IniMinggu Ini207
Bulan IniBulan Ini4525
TotalTotal149971
23.22.79.235

Tamu Online

We have 3 guests and no members online

Articles

Perekonomian

Perekonomian di wilayah perbatasan Kalimantan Barat masih didominasi oleh sektor pertanian. Hal ini bisa dilihat dari persentase terhadap total PDRB di tiap-tiap Kabupaten. Waiaupun hampir semuanya mengalami penurunan persentase, tetapi sektor pertanian ini masih merupakan tulang punggung perekonornian terutarna di daerah perbatasan.

Selain sektor pertanian, sektor perdagangan seperti perdagangan lintas batas jika dilihat dari volume maupun nilainya cukup besar, dan wilayah perbatasan sebagai perlintasan anis keluar masuk barang dan jasa tampaknya sudah mulai menjadi pusat aktivitas perdagangan. Adanya permintaan (demand) terhadap barang atau jasa dari Kalimantan Barat oleh Sarawak, dernikian juga sebaliknya dari Kalimantan Barat Ke Sarawak, akan menggerakan perdagangan di wilayah perbatasan.

Izin berbelanja bagi masyarakat perbatasan sebesar 600 Ringgit Malaysia per bulan, merupakan kesepakatan antara Pernerintah RI dan Malaysia, untuk memudahkan masyarakat perbatasan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari atau kebutuhan sembako. Hal ini juga ikut mendorong aktivitas perdagangan di perbatasan.

Sedangkan dilihat dari sebaran jenis industri mikro (Gambar 7) industry anyaman menjadi industry paling banyak di kecamatan perbatasan persentase sebesar 82,23%. Pengrajin anya man paling banyak terdapat di Desa Jagoi dan Desa Gersik Kecamatan Jagoi Babang dengan jumiah masing-masing sebanyak 217 dan 210 industri.

 

 

 

 

 

 

Scroll to Top